Perjalanan saya bersama partner
jalan-jalan tetap saya, De, ke Dieng adalah perjalanan yang sudah beberapa kali
tertunda karena ketakutan-ketakutan tidak penting yang ada di pikiran saya.
Mulai dari jadwal bis yang berangkat di malam hari, bis yang tidak ber-toilet
(ini merupakan masalah besar bagi saya yang bermasalah dengan kantong kemih)
sampai bis yang dalam bayangan saya pastilah tidak aman.
Setelah beberapa kali terkalahkan
dengan destinasi wisata lain sejak tahun lalu -Ujung Genteng, Bromo, Situ Gunung,
Pangalengan, Sawarna, Pangandaran, Malaka, Kuala Lumpur, Kamboja, Jogjakarta, Gunung
Padang (wow, so many places in only one year)-, akhirnya di akhir minggu lalu kami
berangkat juga ke Dieng.
Rencana semula kami akan
menumpang bis ekonomi AC yang berangkat dari poolnya di Cibitung. Sambil
membuang waktu menunggu De datang, saya putuskan untuk berjalan kaki dari mall tempat saya diturunkan oleh bis
yang mengantar saya dari Tanah Abang, menuju meeting point kami. Ternyata, sepanjang ruas jalan itu
dipenuhi dengan PO bis menuju berbagai daerah di pulau Jawa. Dengan malu-malu
saya melirik, adakah bis eksekutif AC yang bisa mengantarkan kami ke Wonosobo,
sehingga saya terhindar dari nasib buruk menumpang bis ekonomi AC. Dan ternyata
ada.
Langsung saya kabari De, dan
segera membeli 2 tiket bis Pahala Kencana, masing-masing seharga Rp 120.000,- untuk
berangkat jam 7.30 nanti.
Kami menunggu kedatangan bis
dengan deg-degan, apakah bis sesuai dengan harapan kami. Dan woooowwww, it was
beyond our expectations. Kami langsung norak menaikturunkan kaki dan badan
kursi yang reclining dengan nada
riang gembira yang tidak bisa kami sembunyikan.
Tepat pukul 5 pagi keesokan
harinya, kami sampai di Wonosobo. Matahari masih belum bersinar sempurna. Sepanjang jalan menuju rumah sakit tempat kami akan mencegat bis
ke Dieng, kami dibuat terkagum-kagum dengan sebagian kecil dari kota Wonosobo
yang ternyata super bersih, dan tertata rapi. Koq ada ya kota kecil bersih begini? Di
kemudian hari kami tahu bahwa kota itu adalah kota kecil pemegang 5 kali Piala Adipura
sejak tahun 2008. No wonder.
| Wonosobo in the morning |
Dikarenakan satu dan lain hal,
kami sampai di Dieng pukul 7 pagi dan disambut dengan dinginnya udara yang saat
itu berada di 13 derajat celcius.
Tanpa mandi dan berganti baju
–jangan dibayangkan-, kami langsung menuju tujuan pertama kami, kompleks
Candi Arjuna, berbekal map yang diberikan oleh petugas homestay kami.
Candi Arjuna adalah Candi Hindu tertua di Pulau Jawa yang dibangun di abad VII – VIII dan saat ini berada di tengah-tengah areal pertanian luas milik masyarakat Dieng, yang kalau dibandingkan dengan Candi Prambanan atau Borobodur atau Angkor Wat di Siem Reap, adalah terhitung mini.
Kompleks Candi Arjuna yang
berlatar belakang gunung Sindoro terdiri dari Candi Arjuna, Candi Semar, Candi
Sembadra, Candi Srikandi dan Candi Puntadewa.
![]() |
| Kompleks Candi Arjuna |
Tak jauh dari kompleks Candi Arjuna
terdapat Candi Sentyaki. Candi Sentyaki sudah tidak memiliki bagian kepala dan
hanya tersisa badannya. Mungkin itu kenapa tidak ada wisatawan lain selain saya
dan De yang menuju kesana.
Di tengah jalan menuju Candi Sentyaki, kami bertemu dengan seorang ibu tua yang nampak kepayahan membawa potongan-potongan kayu di punggungnya, namun hal itu tidak menghalanginya untuk tersenyum ramah kepada kami. Saya pun menyapanya. Setelah mengetahui asal kami, ibu itu berkata, "saya juga punya saudara di Jakarta, namanya Mbah Siwun." Dan kami hanya bisa tertawa dalam hati, betapa polosnya ibu ini. Walau saya memiliki keinginan untuk terus bercakap-cakap dengannya, bahkan ingin membantunya me-ladang, namun karena keterbatasan waktu yang kami punya, hal itu saya pendam dalam-dalam. De mengerti keinginan saya itu dan tahu betapa saya kecewa tidak bisa melaksanakan misi membantu ibu itu me-ladang.
Satu hal yang paling berkesan dari Dieng adalah kehangatan dan ketulusan masyarakatnya kepada wisatawan. Mereka tidak pernah lupa untuk tersenyum dan menyapa orang-orang asing yang datang ke sana untuk sebentar saja menikmati surga yang menjadi tempat tinggal mereka. Ah, bahkan saat menulis ini hati saya terasa hangat.
| Candi Sentyaki |
Di tengah jalan menuju Candi Sentyaki, kami bertemu dengan seorang ibu tua yang nampak kepayahan membawa potongan-potongan kayu di punggungnya, namun hal itu tidak menghalanginya untuk tersenyum ramah kepada kami. Saya pun menyapanya. Setelah mengetahui asal kami, ibu itu berkata, "saya juga punya saudara di Jakarta, namanya Mbah Siwun." Dan kami hanya bisa tertawa dalam hati, betapa polosnya ibu ini. Walau saya memiliki keinginan untuk terus bercakap-cakap dengannya, bahkan ingin membantunya me-ladang, namun karena keterbatasan waktu yang kami punya, hal itu saya pendam dalam-dalam. De mengerti keinginan saya itu dan tahu betapa saya kecewa tidak bisa melaksanakan misi membantu ibu itu me-ladang.
| Saudaranya Mbak Siwun :)) |
Perjalanan kami lanjutkan menuju Museum
Kailasa, Candi Gatot Kaca dan Candi Bima. Di Candi yang terakhir ini kerap
dilakukan ritual yang masih dipercayai oleh khususnya masyarakat Dieng, yaitu
dengan mengitarinya 7 kali, lalu masuk ke dalam Candi dan ucapkan doa dan
keinginanmu. Sayang, saya baru teringat adanya ritual itu setelah sampai di
Jakarta. Bukan bermaksud menyekutukan Tuhan, hanya saja, it would be an interesting thing to be done there.
| Candi Gatot Kaca |
| Candi Bima |
Kawah Sikidang adalah tujuan kami berikutnya, yang menurut kami biasa saja. Satu hal yang pasti, bau belerang dan teramat sangat menyesakkan.
| Kawah Sikidang |
Lepas tengah hari, kami sudah sedikit kepayahan dan menghitung-hitung sudah berapa kilometer yang kami lalui setengah hari ini.
Akhirnya, kami bisa beristirahat sejenak di Dieng Plateu Theater (DPT) sambil menyaksikan film dokumenter tentang asal mula Dieng. Disana kami temui anak gimbal, yang sayangnya, mungkin karena sudah terlalu sering menjadi obyek perhatian wisatawan, selalu merengetkan wajahnya dan kemudian melengos setiap melihat orang-orang membidikkan kamera mereka ke arahnya.
| DPT |
Dari bukit yang ada di belakang DPT kami bisa melihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Dan dari situ kami berkesimpulan bahwa keindahan telaga baru bisa dinikmati jika dilihat dari tempat yang lebih tinggi. Di Telaga Warna terdapat beberapa goa yang saat ini sudah tidak bisa dimasuki, dan hanya bisa dilihat dari luar pagar.
| Telaga Warna dan Telaga Pengilon |
Di warung yang bertebaran di area parkir Telaga Warna kami temukan penjual mie ongklok. Yang kalau dilihat penampakan warung dan mie nya, ditambah dengan lalat yang bertebaran, jika dalam keadaan normal sudah pasti saya menolak untuk masuk ke dalamnya apalagi memakan masakan yang ada disitu. Namun mengingat waktu sudah jam 2.30 dan perut kami sudah meminta jatah makan siangnya plus jauhnya jarak yang sudah kami jelajahi dengan kaki, ya sudahlaaahh. Cukup murah, 1 mangkok mie ongkok, 1 piring nasi putih, 5 tusuk sate, 4 potong tempe kemul, 21ribu saja.
Perut sudah terisi, ini saatnya kami beranjak untuk mencari Mata Air Tuk Bima Lukar yang merupakan air suci bagi masyarakat Hindu, yang katanya jika kita mencuci muka dengan air yang terpancur disitu, dipercaya akan awet muda. Amin.
Karena sudah terlalu lelah, dan tidak kami temui juga plang Tuk Bima Lukar, dan malah dari jauh terlihat plang homestay kami, akhirnya kami putuskan untuk istirahat sejam di homestay dan jam 4 nanti kami akan menuju Candi Arjuna lagi untuk menikmati sore di tengah indahnya alam Dieng sambil menunggu sunset.
Rencana tinggal rencana, kami bangun menjelang magrib.
Setelah mandi dengan air panas yang on-off-on-off, kami mencari-cari tempat yang kira-kira layak untuk kami makan malam. Tapi ndilalah setelah duduk manis di warung yang menyediakan ayam goreng, kami diberitahu bahwa stok nasi mereka habis. Dengan loyo kami berjalan dan menerima nasib untuk hanya makan nasi goreng gerobak yang sepertinya enak karena lumayan panjangnya antrian. Mmmmm, not badlah.
Malam itu kami tidur cepat karena nanti jam 4 kami akan dijemput oleh supir ojek untuk menuju Bukit Sikunir.
